![]() |
| Dokter Ingatkan Bahaya Vape, Bisa Picu Paru Kempes hingga Peradangan Serius |
INDONESIATERKINI.ID — Anggapan bahwa rokok elektrik atau vape lebih aman dibandingkan rokok biasa kembali mendapat sorotan. Dokter spesialis paru mengingatkan bahwa penggunaan vape tetap berpotensi menimbulkan berbagai gangguan pada sistem pernapasan, mulai dari peradangan saluran napas hingga kondisi yang lebih berat seperti paru kempes.
Peringatan tersebut disampaikan Dokter Spesialis Paru sekaligus Konsultan Onkologi, dr. Jaka Pradipta, Sp.P(K) Onk. Menurutnya, keluhan yang paling sering dialami pengguna vape yang datang untuk berobat adalah bronkitis atau peradangan pada saluran pernapasan.
“Popcorn lung spesifik sih belum, tapi gejala bronkitis atau radang saluran napas banyak,” kata dr. Jaka dalam podcast bersama Raditya Dika.
Zat kimia vape memicu peradangan paru
dr. Jaka menjelaskan bahwa paru-paru manusia pada dasarnya hanya berfungsi menghirup udara bersih. Saat seseorang mengisap vape, berbagai kandungan dalam cairan vape yang dipanaskan menggunakan elemen logam ikut terbawa masuk ke saluran pernapasan.
Menurutnya, partikel-partikel tersebut dianggap sebagai benda asing oleh tubuh sehingga memicu reaksi peradangan. Kondisi inilah yang kemudian dapat menimbulkan gejala seperti batuk, sesak napas, hingga iritasi pada saluran pernapasan.
“Liquid yang ada gulanya, perasanya, kimianya dipanaskan dengan logam. Banyak partikel yang seharusnya enggak masuk ke saluran napas malah masuk. Tubuh menganggap itu benda asing sehingga terjadi peradangan. Itu yang bikin sesak, batuk, dan meradang,” jelasnya.
Risiko EVALI hingga paru kempes
Ia mengatakan, jika kebiasaan menggunakan vape terus berlanjut, dampaknya dapat berkembang menjadi gangguan paru yang lebih berat. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai ialah E-cigarette or Vaping Associated Lung Injury (EVALI), yakni cedera paru akut yang berkaitan dengan penggunaan rokok elektrik.
Pada kasus tersebut, paru-paru dapat mengalami peradangan berat secara mendadak sehingga penderitanya membutuhkan penanganan intensif, termasuk bantuan ventilator.
“Ada satu kondisi akut yang terkenal namanya EVALI. Parunya tiba-tiba meradang secara hebat, cepat, bahkan harus masuk ventilator,” ujarnya.
Selain EVALI, penggunaan vape juga disebut dapat meningkatkan risiko pneumotoraks atau paru kempes. Kondisi ini terjadi ketika jaringan paru mengalami kerusakan sehingga terbentuk lubang yang menyebabkan paru mengempis.
Sebagai contoh, dr. Jaka mengaku pernah mengetahui seorang atlet MMA yang mengalami paru kempes meski memiliki kebiasaan rutin berolahraga. Menurutnya, penggunaan vape diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
“Paru itu seperti balon kanan kiri. Zat-zat kimia dari vape bisa membuat kerusakan dan bolong sehingga akhirnya harus dioperasi dan dipasang selang,” jelasnya.
Olahraga tidak menghapus dampak buruk vape
dr. Jaka juga meluruskan anggapan bahwa rutin berolahraga dapat menyeimbangkan efek buruk dari kebiasaan menggunakan vape. Ia menegaskan bahwa kondisi fisik yang prima tidak serta-merta membuat paru-paru terlindungi dari paparan zat berbahaya yang berasal dari rokok elektrik.
Menurutnya, seseorang mungkin memiliki otot yang kuat dan daya tahan tubuh yang baik, tetapi paru-parunya tetap berisiko mengalami kerusakan apabila terus terpapar kandungan kimia dari vape.
“Orang berpikir olahraga tapi ngevape enggak apa-apa, yang penting seimbang. Ternyata enggak ngaruh. Paru kita tetap rusak, tetap bisa jebol. Mungkin otot kuat, imun oke, tapi paru tetap bisa rusak,” pungkasnya.


